Biasanyadesain taman bermain ini menggabungkan taman bermain dengan lingkungan atau alam sekitar. Dalam desain playground nya pun juga menggunakan alam. Pusat Pembuatan Mainan Anak Playground indoor dan outdoor. Manfaat memiliki indoor playground di tempat usaha Anda. Dapatkan penghasilan yang sangat menguntungkan dan meningkat pesat
Khususnyapada siswa SD yang karakternya masih suka bermain dan suasana hatinya yang kemungkinan bisa berubah˗ubah. reality dapat digunakan untuk menumbuhkan lingkungan belajar yang interaktif dan meningkatkan kepuasan Augmented Reality Untuk Desain Interior Dan Eksterior. Innovative Journal Of Curriculum And Educational Technology, 6
Lingkunganbelajar anak adalah dunia bermain mereka baik di dalam (indoor) maupun di luar ruangan (outdoor). Syarat Pengajuan KPR Untuk Wiraswasta/Pemilik Badan Usaha. Agar bisa mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi dalam bermain judi online di Indonesia anda tentu harus memilih situs penyedia yang bertanggung jawab dan fair play dalam
GadgetAmazon US,Panduan Pembelian,headphone
. KATA PENGANTAR Puji dan syukur kami panjatkan kapada Allah SWT dan Alhamdulillah saya telah menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas mata kuliah Statistik yang berjudul “Pengelolaan Lingkungan Belajar Indoor dan Outdoor”. Suatu kebahagiaan bagi saya apabila kami dapat mempersembahkan makalah ini sebagai tugas mandiri kepada bapak, namun saya menyadari bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun menjadi kekuatan saya untuk menjadi lebih baik dalam persembahan tugas berikutnya. Semoga tugas yang kami buat dapat bermanfaat, khususnya bagi saya yang membuat dan umumnya bagi kita semua, amin. Garut, Maret 2016 DAFTAR ISI Kata pengantar………………………………………………………………………………...…i Daftar isi…………………………………………………………………………………………ii BAB I PENDAHULUAN………………………………...………………………………………………1 A. Latar belakang……………………………………………………………………………..1 B. Rumusan masalah……………………………...………………………………………….1 C. Tujuan………………………………………...…………………………………………...1 BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………...……………………..2 1. Pengertian pengelolaan lingkungan belajar……………………………………………….2 2. Lingkungan belajar indoor……………………………………….………………………..4 3. Sarana dan Prasarana Menurut Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009...............................8 4. Lingkungan belajar outdoor ……………………………..………………………………..9 5. Tujuan anak belajar outdoor………………………...…………………………………...12 BAB III PENUTUP……………………………………………………………………………………..14 A. Kesimpulan…………………………………………………………………………….14 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………….16 BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang masalah Berbagai hal yang mempengaruhi hasil belajar anak usia dini, salah satunya adalah kondisi lingkungan belajar yang kondusif. Oleh karena itu, peranan guru sangatlah penting dalam pengelolaan lingkungan belajar. Pengelolaan lingkungan belajar yang kondusif akan mendorong anak untuk belajar dengan tenang dan berkonsentrasi. Pengelolaan lingkungan belajar yang baik dapat mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien. pengelolaan lingkungan belajar dapat diartikan sebagai suatu proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku anak sehingga dapat terfasilitasi secara optimal. Karena permasalahan tersebut kali ini saya ingin membahas pengelolaan lingkungan belajar outdoor dan indoor dan mempelajari bagaimana cara pengelolaanya agar anak didik kita dapat tumbuh kembang baik secara fisik motorik, kognitif ataupun sosialisasi anak. B. Rumusan masalah 6. Apa pengertian pengelolaan lingkungan belajar ? 7. Bagaimana lingkungan belajar indoor ? 8. Bagaimana Sarana dan Prasarana Menurut Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 ? 9. Bagaimana lingkungan belajar outdoor ? 10. Apa tujuan anak belajar outdoor ? C. Tujuan 1. Mengetahui apa pengertian pengelolaan lingkungan belajar 2. Mengetahui bagaimana lingkungan belajar indoor 3. Memahami bagaimana Sarana dan Prasarana Menurut Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 4. Mengetahui Bagaimana lingkungan belajar outdoor 5. memahami tujuan anak belajar outdoor BAB II PEMBAHASAN pengelolaan lingkungan belajar Pengelolaan berasal dari kata kelola yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an yang mempunyai arti ketatalaksanaan, tata pimpinan, atau bisa disebut juga memenejemen. Menurut suharsimi arikunto19902 pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan, atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan lingkungan belajar adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau pendidikan. Tanpa adanya lingkungan, pendidikan tidak dapat berlangsung. Menurut Huta barat 1986 lingkungan belajar yaitu lingkungan yang alami dan lingkungan sosial, lingkungan alami meliputi keadaan suhu dan kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia. Menurut dun dan dun 1999 kondisi belajar atau lingkungan belajar dapat mempengaruhi konsentrasi dan penerimaan informasi bagi siswa, jadi lingkungan belajar adalah lingkungan alami yang diciptakan oleh guru atau orang lain yang bisa menambah konsentrasi siswa dan pengetahuan siswa secara efisien. Proses pembelajaran bisa berlangsung pada banyak lingkungan yang berbeda, tidak hanya terikat pada ruang kelas akan tetapi bisa pada lingkungan umum seperti masjid, museum, lapangan dan juga bisa berlangsung di sarana dan prasarana sekolahan. Secara keseluruhan istilah pengelolaan lingkungan belajar dapat diartikan sebagai suatu proses mengkoordinasikan dan mengintegrasikan berbagai komponen lingkungan yang dapat mempengaruhi perubahan perilaku anak sehingga dapat terfasilitasi secara optimal. Pengelolaan belajar dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian , yaitu lingkungan fisik dan lingkungan non-fisik. Lingkungan fisik merupakan suatu tempat atau suasana keadaan terdiri dari objek, materi dan ruang yang mempengaruhi pertumbuhan manusia. Lingkungan fisik terdapat 2 jenis lingkungan yaitu lingkungan indoor dan outdoor. belajar indoor Sesuai dengan karakteristiknya, masa usia dini disebut masa peka. Pada masa ini anak sangat sensitif atau sangat peka terhadap sesuatu di sekitarnya sehingga pada masa ini merupakan saat yang paling tepat bagi anak untuk menerima respons atau rangsangan yang diberikan oleh lingkungannya. Dengan demikian, lingkungan sebagai unsur yang menyediakan sejumlah rangsangan perlu mendapat perhatian dan perlu diciptakan sedemikian rupa, agar menyediakan objek- objek sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak. Untuk itu, dibutuhkan perencanaan yang matang. Ketepatan lingkungan belajar secara langsung maupun tidak langsung akan sangat mempengaruhi proses dan hasil belajar yang akan dicapai anak. Idealnya dalam pengelolaan lingkungan belajar adalah penggabungan dari dua hal, guru yang superior yaitu memadai dalam pengetahuan dan pengalamannya, dilengkapi ruangan dengan peralatan yang sesuai dengan kebutuhan perkembangan dan minat anak. Ms. Johnson dalam Luluk Asmawati, 2014 mempunyai pandangan yang ekstrim yaitu, pada kenyataannya seorang anak akan lebih tertarik pada lingkungan kelas dan pembelajaran tertentu yang membutuhkan tantangan untuk membuat kegiatan sehari- hari berjalan dengan menyenangkan. Pendapat ini menunjukkan bahwa, faktor lingkungan memberikan pengaruh yang sangat besar dalam membedakan kualitas program di lembaga PAUD, oleh karena itu guru harus berhati-hati dalam merencanakan dan mengorganisir ruang kelas dan peralatannya. Pandangan konstruktivis yang dimotori oleh dua orang ahli psikologi yaitu Jean Piaget dan Lev Vigotsky berasumsi bahwa anak adalah pembangun pengertian yang aktif. Anak mengonstruksi/ membangun pengetahuannya berdasarkan pengalamannya. Pengetahuan tersebut diperoleh anak dengan cara membangun sendiri secara aktif melalui interaksi yang dilakukannya dengan lingkungan. Para ahli konstruktivis meyakini bahwa pembelajaran terjadi saat anak memahami dunia di sekeliling mereka. Pembelajaran menjadi proses interaktif yang melibatkan teman sebaya anak, orang dewasa dan lingkungan. Anak membangun pemahaman mereka sendiri terhadap dunia. Mereka memahami apa yang terjadi di sekeliling mereka dengan menyintesis pengalaman- pengalaman baru dengan berbagai hal yang telah mereka pahami sebelumnya. Pendekatan konstruktivis ini menekankan pada pentingnya keterlibatan anak dalam proses pembelajaran. Untuk itu maka guru harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang menyenangkan, akrab, dan hangat melalui kegiatan bermain maupun berinteraksi dengan lingkungan sehingga dapat merangsang partisipasi aktif dari anak Panduan National Association Education for the Young Children NAEYC dalam bukunya Developmentally Appropriate Practice DAP1991 menyatakan bahwa anak- anak pada semua usia membutuhkan periode tanpa interupsi untuk melakukan berbagai kegiatan yang meliputi investigasi dan kegiatan pilihan dikutip dari Luluk Asmawati, 2014 Beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh guru dalam merencanakan kegiatan pilihan bagi anak adalah menyiapkan lingkungan belajar dengan berbagai kegiatan pilihan yang merangsang dan menantang meskipun bukan berarti harus dengan peralatan yang lengkap. Persiapan dan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan anak, para penanggung jawab biasanya mulai dari peralatan dan persediaan dan hal lainnya yang tercakup, sering kali harus membuat keputusan secara hati- hati, seperti berikut ini. a. Memilih dan menyediakan beberapa peralatan dan persediaan yang sesuai perkembangan b. Menata peralatan dan persediaan dalam cara terorganisasi c. Menciptakan jadwal harian secara rutin dan konsisten dengan masa transisi yang fleksibel Contoh kegiatan pembelajaran anak indoor NO NAMA SISWA JENIS KELAMIN 1 ALFACHRIZY L 2 BAYU ADITIO L 3 ENDRIO L 4 ARSYIL L 5 RAFA AKMAL L 6 RAHSYA L 7 RIZKY M ILHAM L 8 ABIL AHMAD L 9 SHIFA P 10 SEASILK P 11 HASNA P 12 KAYLA P 13 MAUDY P 14 RANIA P 15 ZULFA P JENIS KELAMIN JUMLAH RELATIF p 7 l 8 15 100% Data siswa yang mampu dalam hafalan JENIS KELAMIN JUMLAH RELATIF HAFALAN JUMLAH RELATIF p 7 P 7 47% l 8 L 8 53% 15 100% 15 100% Data siswa yang mulai berkembang dan sudah berkembang dalam pembelajaran IQRA JENIS KELAMIN JUMLAH RELATIF HAFALAN JUMLAH RELATIF IQRA MB BERKEMBANG JUMLAH RELATIF p 7 P 7 47% P 4 3 7 47% l 8 L 8 53% L 5 3 8 53% 15 100% 15 100% 9 6 15 100% C. Sarana dan Prasarana Menurut Permendiknas Nomor 58 Tahun 2009 Standar Sarana dan Prasarana adalah perlengkapan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan pendidikan, pengasuhan, dan perlindungan. Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi sosial, budaya, dan jenis layanan PAUD. 1. Prinsip a. Aman, nyaman, terang, dan memenuhi kriteria kesehatan bagi anak. b. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak. c. Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar, termasuk barang limbah/bekas layak pakai. 2. Persyaratan a. PAUD Jalur Pendidikan Formal 1 Luas lahan minimal 300 m2. 2 Memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak. 3 Memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik. 4 Memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. 5 Memiliki peralatan pendukung keaksaraan. b. PAUD Jalur Pendidikan Nonformal 1 Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani, dengan luas minimal 3 m2 per perseta didik. 2 Minimal memiliki ruangan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas anak yang terdiri dari ruang dalam dan ruang luar, dan kamar mandi/jamban yang dapat digunakan untuk kebersihan diri dan BAK/BAB toileting dengan air bersih yang cukup. 3 Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani. 4 Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. 5 Khusus untuk TPA, harus tersedia fasilitas untuk tidur, mandi, makan, dan istirahat siang D. Lingkungan belajar outdoor Ada dua alasan penting mengapa bermain outdoor diperuntukkan anak usia dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan dan didapatkan. Kedua, kebiasaan orang tua yang menjauhkan bermain outdoor dari anak-anak dan lebih memilih menggunakan komputer dan menonton televisi, orang tua yang sibuk dan terlalu lelah dengan aktivitasnya, serta standar pendidikan yang tinggi dan ketat menyebabkan anak jauh dari kegiatan bermain. Bermain outdoor sangat menyenangkan dan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Hal yang paling penting dari penataan lingkungan outdoor adalah anak mendapatkan pengalaman yang unik. Misalnya, science, yang datang dengan sendirinya secara natural, yaitu bereksplorasi dan mengobservasi dengan tangannya sendiri. Anak dapat melihat tanaman-tanaman tumbuh dan mengikuti perubahan musim. Anak-anak melihat tentang perubahan warna, memegang kulit kayu sebatang pohon, mendengar suara jangkrik atau mencium udara setelah hujan turun, anak-anak menggunakan semua perasaan mereka untuk belajar tentang dunianya. Seni, musik, membaca, bermain peran, bermain konstruktif, bermain sosial dan boneka juga dapat dibawa ke dalam semua area outdoor. Tempat yang besar adalah salah satu ciri dari lingkungan outdoor menjadi sempurna bagi anak-anak untuk mengembangkan kemampuan otot-otot besar, misalnya berlari dan memanjat. Menggunakan perlengkapan di area bermain juga dapat meningkatkan ketahanan, keseimbangan, dan koordinasi tubuh. Dalam creative curriculum, lingkungan bermain outdoor adalah hal yang memerlukan perhatian yang sama dengan kegiatan di dalam kelas. Hal ini berarti bahwa berbagai pengembangan dipelajari sosial-emosional, kognitif, dan fisik yang dimasukkan dalam kegiatan indoor juga masuk dalam kegiatan outdoor. Data siswa dan jenis pembelajaran yang disukai JENIS KELAMIN JUMLAH RELATIF INDOOR OUTDOOR JUMLAH RELATIF p 7 2 5 10 l 8 3 5 8 15 100% 5 10 18 E. Tujuan anak belajar outdoor 1. Tujuan Perkembangan Sosial Emosional a. Mendemonstrasikan kemampuan sosial dengan membantu merawat taman, berpartisipasi dalam permainan bersama teman sebaya. b. Berunding dan kompromi serta kooperatif dengan sesama teman dalam menggunakan peralatan yang ada di arena bermain, berbagi alat-alat seni, bermain kelompok. c. Mengekspresikan kreativitas, dengan membuat berbagai benda seni. mengembangkan permainan baru. d. Mempertinggi rasa percaya diri mampu belajar untuk menggunakan motorik halus dan motorik kasar. e. Menambah kemandirian, seperti mendaki sendiri atau turun dengan menggunakan tali tanpa bantuan. f. Menunjukkan prestasi yang dibanggakan, seperti memperlihatkan kekuatan fisik, membawa hewan peliharaan, membawa tumbuhan yang ditanam dari bibit. 2. Tujuan Perkembangan Kognitif. a. Membuat keputusan memilih sebuah aktivitas outdoor. b. Merencanakan dan memiliki banyak ide bermain games, membangun balok, melakukan permainan tukang kayu, membuat karya seni, menanam pohon. c. Memecahkan masalah membuat terowongan di bukit pasir, dapat bermain dari satu alat permainan ke alat permainan lainnya. d. Menggali pengalaman melalui berbagai peran, seperti menjadi sopir ambulans, mengecat pagar dengan air, mencuci boneka atau menghidangkan makanan. e. Dapat bekerja sama bermain pasir bersama dengan menambahkan sedikit air, berkejar-kejaran hingga menjadi basah. f. Belajar science berjalan di alam terbuka, mengamati pertumbuhan tanaman, memperhatikan hewan-hewan yang ada di alam bebas. g. Mengembangkan pemahaman konsep awal matematika menghitung lompatan atau loncatan, menghitung jarak, mengukur tinggi pohon. h. Memperkaya kosakata bercakap-cakap di bak pasir atau pada saat menjadi tukang kayu, memberikan nama baru pada tanaman, binatang dan benda-benda yang ditemukan di alam terbuka. 3. Tujuan Perkembangan Fisik a. Mengembangkan motorik kasar mendaki, bergelayutan, melompat, loncat tali dan berlari-lari. b. Mengembangkan motorik halus bermain dengan air dan pasir, menggambar, melukis, mengumpulkan benda-benda kecil. c. Menambah koordinasi gerakan dengan mata dan tangan menangkap, melempar, pekerjaan tukang kayu, menghias sisi jalan dengan kapur. d. Mengatur keseimbangan mendaki, berayun, meluncur, menggunakan balok untuk berlatih keseimbangan, menggunakan alat pelontar, melompat-lompat, berjalan di atas permukaan yang berbeda. e. Menambah kesadaran akan ruang dan tempat berayun, mendaki, menurun, masuk, keluar, di atas dan di bawah. f. Menunjukkan ketekunan dan ketahanan, bermain pada area mendaki, menancapkan ujung kuku pada pohon. Prinsip – prinsip dalam pengelolaan lingkungan merefleksikan selera anak child’s tastes 1 Dari sudut aktivitas yang disediakan 2 Dari sudut dukungan fasilitas lingkungan belajar dapat sesuai dengan selera anak, baik itu berkenaan dengan pilihan warna, pilihan bentuk, pilihan ukuran, pilihan bahan, maupun berkenaan dengan variasi pilihan. b. Prinsip berorientasi pada optimalisasi perkembangan dan belajar anak Prinsip-prinsip pembelajaran terpadu, pembelajar sepanjang hayat, quantum learning, pendekatan belajar melalui bermain, pengorganisasian pesan-pesan pembelajaran. c. Prinsip berpijak pada efisiensi pembelajaran Guru menguasai ruang lingkup pembelajaran, menguasai berbagai cara mengaktifkan anak yang mendidik dan bermakna, menguasai karakteristik perkembangan anak, kemampuan dalam mengendalikan dirinya sendiri secara baik. Prinsip Penataan Area Bermain Outdoor Pada Anak Usia Dini 1. Memenuhi Aturan Keamanan 2. Melindungi dan Meningkatan Karakteristik Alamiah Anak 3. Desain Lingkungan Luar Kelas Harus Didasarkan pada Kebutuhan Anak 4. Secara Estetis Harus Menyenangkan BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Pengelolaan berasal dari kata kelola yang mendapat imbuhan pe dan akhiran an yang mempunyai arti ketatalaksanaan, tata pimpinan, atau bisa disebut juga memenejemen. Menurut suharsimi arikunto19902 pengelolaan adalah pengadministrasian, pengaturan, atau penataan suatu kegiatan. Sedangkan lingkungan belajar adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai wadah atau lapangan terlaksananya proses belajar mengajar atau pendidikan. Tanpa adanya lingkungan, pendidikan tidak dapat berlangsung. Menurut Huta barat 1986 lingkungan belajar yaitu lingkungan yang alami dan lingkungan sosial, lingkungan alami meliputi keadaan suhu dan kelembaban udara, sedangkan lingkungan sosial dapat berwujud manusia. Menurut dun dan dun 1999 kondisi belajar atau lingkungan belajar dapat mempengaruhi konsentrasi dan penerimaan informasi bagi siswa, jadi lingkungan belajar adalah lingkungan alami yang diciptakan oleh guru atau orang lain yang bisa menambah konsentrasi siswa dan pengetahuan siswa secara efisien. Persiapan dan pengelolaan lingkungan yang sesuai dengan perkembangan anak, para penanggung jawab biasanya mulai dari peralatan dan persediaan dan hal lainnya yang tercakup, sering kali harus membuat keputusan secara hati- hati, seperti berikut ini. a. Memilih dan menyediakan beberapa peralatan dan persediaan yang sesuai perkembangan b. Menata peralatan dan persediaan dalam cara terorganisasi c. Menciptakan jadwal harian secara rutin dan konsisten dengan masa transisi yang fleksibel. Pengadaan sarana dan prasarana perlu disesuaikan dengan jumlah anak, kondisi sosial, budaya, dan jenis layanan PAUD. 1. Prinsip a. Aman, nyaman, terang, dan memenuhi kriteria kesehatan bagi anak. b. Sesuai dengan tingkat perkembangan anak. c. Memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar, termasuk barang limbah/bekas layak pakai. 2. Persyaratan a. PAUD Jalur Pendidikan Formal 1 Luas lahan minimal 300 m2. 2 Memiliki ruang anak dengan rasio minimal 3 m2 per peserta didik, ruang guru, ruang kepala sekolah, tempat UKS, jamban dengan air bersih, dan ruang lainnya yang relevan dengan kebutuhan kegiatan anak. 3 Memiliki alat permainan edukatif, baik buatan guru, anak, dan pabrik. 4 Memiliki fasilitas permainan baik di dalam maupun di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. 5 Memiliki peralatan pendukung keaksaraan. b. PAUD Jalur Pendidikan Nonformal 1 Kebutuhan jumlah ruang dan luas lahan disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani, dengan luas minimal 3 m2 per perseta didik. 2 Minimal memiliki ruangan yang dapat digunakan untuk melakukan aktivitas anak yang terdiri dari ruang dalam dan ruang luar, dan kamar mandi/jamban yang dapat digunakan untuk kebersihan diri dan BAK/BAB toileting dengan air bersih yang cukup. 3 Memiliki sarana yang disesuaikan dengan jenis layanan, jumlah anak, dan kelompok usia yang dilayani. 4 Memiliki fasilitas permainan baik di dalam dan di luar ruangan yang dapat mengembangkan berbagai konsep. 5 Khusus untuk TPA, harus tersedia fasilitas untuk tidur, mandi, makan, dan istirahat siang. Ada dua alasan penting mengapa bermain outdoor diperuntukkan anak usia dini. Pertama, banyak kemampuan anak yang harus dikembangkan dan didapatkan. Kedua, kebiasaan orang tua yang menjauhkan bermain outdoor dari anak-anak dan lebih memilih menggunakan komputer dan menonton televisi, orang tua yang sibuk dan terlalu lelah dengan aktivitasnya, serta standar pendidikan yang tinggi dan ketat menyebabkan anak jauh dari kegiatan bermain. Tujuan anak belajar outdoor 1. Tujuan Perkembangan Sosial Emosional 2. Tujuan perkembangan kognitif 3. Tujuan perkembangan fisik. DAFTAR PUSTAKA
ArticlePDF AvailableAbstractThe aim of the research is to develop an integrated indoor and outdoor playground learning design to optimizemultiple intelligences. Through research and development carried out two stages. The first stage, developingmultiple intelligence instruments is needed to support the design of an integrated learning environment. Thesecond stage, designing the setting design of integrated learning environment based on development stage. Theresults showed that the design of integrated learning environment management can optimize the multipleintelligence of early childhood. Discover the world's research25+ million members160+ million publication billion citationsJoin for freeContent may be subject to copyright. PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 241 PENATAAN LINGKUNGAN BELAJAR TERPADU UNTUK MENINGKATKAN POTENSI KECERDASAN JAMAK ANAK Rita Mariyana, Ocih Setiasih Universitas Pendidikan Indonesia rita_upi setiasih Abstract The aim of the research is to develop an integrated indoor and outdoor playground learning design to optimize multiple intelligences. Through research and development carried out two stages. The first stage, developing multiple intelligence instruments is needed to support the design of an integrated learning environment. The second stage, designing the setting design of integrated learning environment based on development stage. The results showed that the design of integrated learning environment management can optimize the multiple intelligence ofearly childhood. Keywords Learning Environment, Indoor, Outdoor Playground, Multiple Intelligences A. PENDAHULUAN Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan konsep dan penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor playgound untuk pengembangan potensi kecerdasan jamak anak usia dini. Produk yang dihasilkan berupa desain seting lingkungan belajar indoor outdoor playgound terpadu untuk memaksimalkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini. Asumsi potensi kecerdasan jamak multiple intelligences pada anak-anak muncul berdasarkan paradigma bahwa setiap anak memiliki potensi jenius. Setiap anak lahir dengan kemampuan tertentu. anak memiliki kekaguman, rasa ingin tahu, spontanitas, vitalitas, fleksibilitas, dan jauh lebih menyenangkan baginya. Anak usia dini akan langsung dikendalikan sistem yang kompleks dari simbol, otak brilian, kepribadian dan percepatan sensitif terhadap rangsangan apapun. Kewajiban orang tua di rumah dan guru di sekolah untuk memelihara kecerdasan masingmasing anak sejak dini. Kejeniusan alami anak harus dipelihara dan dipupuk secara optimal dengan bimbingan orang tua dan guru serta penyediaan lingkungan belajar yang kondusif untuk mengoptimalkan kecerdasan jamak anak. Lingkungan belajar anak usia dini sebaiknya menyediakan fasilitas bermain anak yang menjadikan anak bebas untuk bergerak, berkreasi, menjelajah termasuk melakukan berbagai manipulasi sehingga anak-anak mendapatkan beberapa perilaku baru dari aktivitasnya. Lingkungan belajar di dalam ruangan akan digunakan tempat belajar bagi anak-anak untuk mengasah berbagai potensinya. Hal yang menjadi perhatian setidaknya meliputi ukuran ruangan, keadaan lantai, dinding kelas, atap langit-langit dan lain-lain yang diperlukan dalam pengelolaan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan, Mariyana, dkk.. Kegiatan di lingkungan belajar luar ruangan tempat bermain anak outdoor playground merupakan bagian integral dari program pengembangan dan pembelajaran anak-anak. Lingkungan belajar di luar ruangan menguntungkan dan efektif membantu perkembangan anak-anak yang memiliki kecerdasan jamak yang bervariasi, maka lingkungan belajar outdoor playground harus menjadi bagian yang perlu ditata dengan baik dan serius. Pentingnya menyediakan lingkungan belajar yan kondusif untuk anak usia dini dapat merangsang dan mengembangkan PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 242 potensi anak, khususnya potensi kecerdasan jamak yang dimiliki oleh masing-masing anak yang berbeda sehingga dengan mengembangkan model desain penataan seting lingkungan belajar indoor outdoor playground terpadu dapat meningkatkan potensi kecerdasan jamak yang dimiliki setiap anak. Temuan penelitian Afoma R. Okudo Christy Omotuyole, 2014 menjelaskan bahwa lingkungan belajar anak prasekolah harus menyediakan fasilitas untuk kecerdasan bahasa anak-anak dan perkembangan keseluruhan dari konten dan gaya belajar setiap anak sehingga lingkungan belajar anak prasekolah harus sangat berbeda dari karakteristik orang dewasa. Temuan ini mengindikasikan bahwa lingkungan belajar anak usia dini harus berbeda dengan orang dewasa dan harus dapat mempasilitasi perkembangan dan optimalisasi kecerdasan jamak anak. B. KAJIAN LITERATUR Masa anak usia dini atau usia prasekolah adalah periode sensitif. Setiap anak sensitif untuk menerima rangsangan apapun, selama fungsi psikis dan fisik siap untuk menanggapi setiap stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Dengan demikian, lingkungan sebagai unsur utama memberikan beberapa stimulus perlu ditangani secara serius. Diperlukan perencanaan dan seleksi khusus untuk memberikan lingkungan yang sesuai dan dibutuhkan oleh anak-anak. Akurasi dari lingkungan yang disediakan tidak akan berpengaruh pada proses dan hasil dari perilaku anak-anak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sebuah lingkungan belajar yang mampu mengembangkan berbagai perkembangan anak secara optimal jika dirancang secara apik dan baik. Akhirnya, dapat disimpulkan bahwa lingkungan belajar merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan dalam membangun kemampuan dan perilaku anak-anak dan mengembangkan potensi kecerdasan jamak anak. Implikasinya adalah bahwa lingkungan untuk anak-anak harus diberikan prioritas, terutama jika lingkungan tersebut adalah lingkungan belajar. Memahami pengelolaan lingkungan belajar sangat penting, dan untuk menjadi bermakna, yang pertama perlu rumus untuk digabungkan adalah konsep lingkungan belajar. Dari kata “lingkungan” dan “belajar,” dapat dirumuskan dalam hal lingkungan belajar, yang merupakan tempat atau suasana yang mempengaruhi proses perubahan perilaku manusia. Tentu saja manusia adalah anak sebagai subyek yang berada di lingkungan itu. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa perubahan yang dihasilkan dari lingkungan dapat dirasakan dan relatif permanen. Semakin kuat pengaruh lingkungan, perubahan yang akan terjadi pada subjek yang diteliti diperkirakan akan lebih tinggi juga. Ini adalah besarnya pengaruh lingkungan terhadap perilaku belajar anak. Untuk itu akan sangat bijaksana, jika seseorang guru menampilkan peran lingkungan untuk perkembangan dan pertumbuhan individu, terutamaanak-anak. 1. Lingkungan Belajar Anak Usia Dini Periode usia PAUD atau prasekolah adalah masa peka. Anak sensitif untuk menerima segala rangsangan, yaitu pada masa fungsi-fungsi fisik dan psikis telah siap merespon segala rangsangan stimulus yang diberikan oleh lingkungan. Dengan demikian, lingkungan sebagai unsur yang mensuplai atau menyediakan sejumlah rangsangan perlu mendapatkan perhatian sungguh-sungguh. Diperlukan perencanaan dan seleksi khusus agar dapat menyediakan lingkungan yang cocok dan diperlukan oleh anak. Ketepatan lingkungan yang disediakan akan memberi pengaruh pada proses dan hasil perilaku anak, baik secara langsung mau pun tidak langsung. PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 243 Suatu lingkungan belajar yang benar mampu mengembangkan berbagai dimensi perkembangan anak secara optimal. Dapat disimpulkan bahwa lingkungan merupakan salah satu faktor penentu kunci keberhasilan dalam membangun kemampuan dan perilaku anak. Implikasinya adalah bahwa penyediaan lingkungan bagi anak hendaknya mendapat prioritas, apalagi jika lingkungan tersebut merupakan lingkungan belajar, Mariyana, dkk.. Pengertian lingkungan belajar secara bertahap. Agar lebih bermakna, rumusan pertama yang perlu dikombinasikan adalah konsep lingkungan belajar. Dari perpaduan kata “lingkungan” dan “belajar”, secara sederhana dapat dirumuskan pengertian lingkungan belajar, yaitu suatu tempat atau suasana keadaan yang mempengaruhi proses perubahan tingkah laku manusia. Tentu manusia tersebut adalah pelajar sebagai subjek yang berada di lingkungan tersebut. Dari penjelasan tersebut dapat dilanjutkan bahwa perubahan-perubahan yang diakibatkan lingkungan dapat bersifat menetap dan relatif permanen. Semakin kuat pengaruh lingkungan tersebut, maka perubahan yang akan terjadi pada subyek belajar diprediksikan akan semakin tinggi pula. Inilah kehebatan pengaruh lingkungan terhadap perilaku seseorang. Untuk itu akan sangat tidak bijak, apabila seseorang menampikan saja peran lingkungan bagi perkembangan dan pertumbuhan individu, terutama anak-anak. Bahwa lingkungan belajar merupakan sarana yang dengannya para pelajar dapat mencurahkan dirinya untuk beraktivitas, berkreasi, termasuk melakukan berbagai manipulasi banyak hal hingga mereka mendapatkan sejumlah perilaku baru dari kegiatannya itu. Dengan bahasa lain, lingkungan belajar dapat diartikan sebagai “laboratorium” atau tempat bagi anak untuk bereksplorasi, bereksperimen dan mengekspresikan diri untuk mendapatkan konsep dan informasi baru sebagai wujud dari hasil belajar. Jika pelajar itu adalah anak PAUD Pendidikan Anak Usia Dini atau prasekolah, maka lingkungan tersebut adalah lingkungan belajar yang diperuntukan bagi anak-anak usia PAUD atau prasekolah. 2. Lingkungan Belajar Indoor Untuk Anak UsiaDini Mendapatkan ruangan kelas yang ideal, kita perlu memperhatikan pengaturan dan penataan ruangan kelasnya. Ruangan bermain indoor untuk anak biasanya berupa ruangan yang luas berbentuk persegi panjang, namun memiliki beberapa pembatas yang memisahkan satu area dengan area lainnya. Di setiap sudut ruangan juga biasanya disediakan tempat penyimpanan bahan-bahan yang dapat dipergunakan untuk beraktivitas. Ruang kelas anak-anak yang lebih muda sekitar 3-4 tahun biasanya diatur dengan bentuk yang lebih sederhana. Keseluruhan aktivitas belajar terjadi di satu ruangan dan anak-anak dapat dengan leluasa duduk di lantai kelas. Beberapa gambar dan simbol pembelajaran dipasang untuk mendeskripsikan berbagai kegiatan yang terjadi di setiap sudut ruangan. Sebagai contoh, kegiatan membaca biasanya dilakukan di area belajar yang diberi nama “area bahasa”, atau kegiatan menggambar di “area seni”. Prinsipnya adalah bahwa kegiatan-kegiatan ini dilakukan pada area-area yang sudah dirancang sesuai dengan kebutuhan, Mariyana, dkk.. Lingkungan dalam ruangan indoor sangat penting bagi anakanak. Lingkungan dan ruangan indoor harus akrab dan menghibur, mengurangi transisi dari suasana di rumah hingga pengaturan awal tahun sekolah. Hal ini melibatkan PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 244 melengkapi lingkungan fisik dengan perabotan yang lembut, ruangan kecil dan ruang yang sepi. Pengaturan ruangan terbaik memudahkan transisi dengan melayani semua anak, Beckley, 2012. 3. Lingkungan Belajar Outdoor Playground Untuk Anak Usia Dini Kegiatan di luar ruangan merupakan suatu bagian integral dari program pendidikan anak usia dini. Bagi Froebel, taman bermain anak-anak itu bersifat “alamiah”. Anak-anak memelihara kebun, membangun bendungan aliran air, memelihara binatang, dan melakukan permainan. Pada umumnya mereka melakukannya di luar ruangan atau di outdoor space. Selain anak menyukai udara bebas dan areanya yang luas, kegiatan di laur juga lebih banyak menyediakan berbagai fasilitas yang dapat dimanfaatkan anak untuk membantu perkembangannya. Lingkungan belajar di luar kelas seyogyanya tidak hanya berperan sebagai tempat bermain melainkan juga sebagai tempat anak mengekspresikan keinginannya. Lingkungan ini merupakan tempat yang sangat menarik dimana anak-anak dapat tumbuh dan berkembang. Ketika anak-anak bermain di luar, mereka menunjukkan ketertarikan serta rasa ingin tahu yang tinggi. Karena lingkungan di luar kelas selalu penuh kejutan dan kaya akan perubahan. Di luar kelas anak-anak dapat mempelajari berbagai hal serta mengoptimalkan semua aspek perkembangannya. Guru-guru pun dapat membantu anak dalam meningkatkan pertumbuhan mereka melalui programprogram pembelajaran, yang dapat dievaluasi melalui pengamatan, atau pun berinteraksi langsung dengan anak. Lingkungan belajar luar kelas outdoor playground yang terpadu yang juga merupakan salah satu cara yang dapat digunakan guru untuk mendorong kegiatan anak dalam keingintahuan, penyelidikan dan eksplorasi, memiliki sejumlah pengalaman sensual bagi anak-anak untuk mendorong anak menggunakan semua indra mereka, yang aman Johnston, 2005 dalam Beckley, 2012. 4. Optimalisasi Potensi Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini Melalui aktivitas di luar ruangan atau outdoor semua bagian perkembangan anak dapat ditingkatkan. Hal ini terjadi karena aktivitas outdoor melibatkan multi aspek perkembangan anak. Aktivitas outdoor lebih berperan dalam mengintegrasikan sensoris dan berbagai potensi yang dimiliki anak. Hal ini termasuk perkembangan fisik, keterampilan sosial dan pengetahuan budaya, serta perkembangan emosional dan intelektual. Kecerdasan Jamak Multiple Intellegences merupakan istilah dalam kajian tentang kecerdasan yang diprakarsai oleh seorang pakar pendidikan Amerika Serikat bernama Howard Gardner 2004. Terdapat keragaman terjemahan tentang Multiple Intellegences ini, sebagian orang menerjemahkan dengan kecerdasan ganda, kecerdasan majemuk dan kecerdasan jamak. Dalam artikel ini yang dipergunakan sebagai terjemahan multiple intellegences adalah kecerdasan jamak. Secara umum kecerdasan jamak pada anak yang dicetuskan oleh Howard Gardner 2004 adalah sebagai berikut ini a. KecerdasanLinguistik Verbal; b. Kecerdasan Logika-Matematika Matematis-Logis; c. Kecerdasan Spasial Ruang; d. Kecerdasan Kinestetik Fisik dan Gerak; e. Kecerdasan Musikal Musik; PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 245 f. Kecerdasan Interpersonal; g. Kecerdasan Intrapersonal Dalam Pribadi; dan h. Kecerdasan Naturalis Alam. 5. Mengenali Kecerdasan Jamak Anak Usia Dini Mengembangkan sebuah profil dari kecerdasan jamak seseorang bukanlah hal yang sederhana. Tidak ada satu pun tes kecerdasan yang dapat menentukan potensi dan kualitas dari kecerdasan-kecerdasan seseorang. Tes-tes yang sudah terstandardisasi saat ini, seperti yang sering dikemukakan oleh Howard Gardner 2004, hanya mengukur sebagian kecil dari keseluruhan spektrum kemampuan. Cara penilaian yang realistis dari kinerja orang dalam beraneka konteks jenis tugas dan kegiatan untuk menilai atau mengetahui kecerdasan jamak sesorang adalah dengan melalui sebuah pengalaman-pengalaman terasosiasi antara satu kecerdasan dengan kecerdasan yang lain. Tentunya dibutuhkan waktu panjang untuk menelitinya, Hoerr,2004. Meskipun benar setiap anak dapat memiliki semua kecerdasan dan mampu mengembangkannya ke suatu tingkat yang cukup tinggi, anak-anak kelihatannya menunjukkan apa yang Howard Garner 2004 sebutkan sebagai kecenderungan terhadap kecerdasan-kecerdasan tertentu pada usia yang sangat muda. Pada saat anak masuk sekolah, anak mungkin telah menentukan cara-cara belajar yang lebih selaras dengan beberapa kecerdasan anak dibandingkan yang lain. Anak-anak yang menonjol kuat secara berpikir, menyukai membutuhkan linguistik dalam kata-kata membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata, dsb. Bukubuku, kaset, kertas, diary, dialog, diskusi, debat, cerita-cerita, dsb. Logika matematis dengan menalar bereksperimen, menanyakan, mengatasi teka-teki logika, menghitung, dsb. Benda-benda yang bisa diselidiki dan dipikirkan, materi-materi ilmiah, yang dapat dikutak katik, kunjungan-kunjungan ke planetarium atau museum ilmiah. Ruangan gambar-gambar merancang, menggambar, menvisualisasikan, dsb. Seni, Lego, video, film, slide, permainan imajinasi, maze, puzzle, buku-buku ilustrasi, kunjungan-kunjungan ke museum seni. Tubuh fisik melalui sensasi-sensasi somatik tarian, berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb. Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olahraga dan permainan-permainan fisik, belajar langsung, dsb. Musik melalui irama-irama dan melodi-melodi bernyanyi, bersiul, mengetuk menggunakan kaki dan mendengarkan, dsb Bernyanyi bersama-sama, mendatangi konser-konser, bermain musik di rumah dan sekolah, alat-alat sekolah, dsb. Interpersonal dengan memantulkan ide-ide mereka terhadap orang lain memimpin, berorganisasi, berelasi, memanipulasi, menengahi, dsb. Kawan-kawan, kelompok-kelompok permainan, perkumpulan sosial, acara komunitas, klub-klub, permur idan. Dalam pribadi jauh ke dalam dirinya membentuk tujuan-tujuan, bermeditasi, bermimpi, berdiam diri, berencana tempat-tempat rahasia, waktu sendirian, proyek-proyek pribadi, pilihan-pilihan. Kecerdasan alam dengan analogi yang ada di alam berada di alam berkeliaran, berhubungan, dan menyentuh tanah, air, hewan, dan angin, Suyadi, 2014. C. METODOLOGI PENELITIAN Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Research and Development karena bertujuan untuk mengembangkan sebuah desain penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor playgound terpadu yang dapat PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 246 memaksimalkan potensi kecerdasan jamak pada anak usia dini. Tahapan penelitian secara sederhana dikelompokan menjadi empat tahap kegiatan yaitu tahap studi pendahuluan, tahap perencanaan dan pengembangan model, uji coba dan revisi, serta validasi model. Untuk kegiatan pengembangan model digunakan pendekatan kualitatif dengan langkah-langkah Merumuskan rencana pengembangan desain lingkungan indoor dan outdoor terpadu yang mampu meningkatkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini; Mengembangkan desain awal lingkungan indoor outdoor terpadu yang mampu meningkatkan potensi kecerdasan jamak anak yang mencakup bentuk model, setting, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap desain penataan lingkungan indoor outdoor terpadu yang telah dikembangkan. D. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil desain penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor playground terpadu untuk meningkatkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini multiple intellegences dapat dilihat pada gambar berikut ini. Gambar 1 Desain Setting Penataan Lingkungan Belajar Terpadu Gambar 2 Rancangan Lingkungan Belajar Gambar 3 Rancangan Ruang Belajar Gambar 1 dan 2 diatas adalah rancangan lingkungan belajar terpadu. Gambar 2 adalah dalam kelas berbentuk rumah panggung berukuran 8m x 8m, dengan konsep tradisonal ramah lingkungan, menggunakan penerangan alami, dan memiliki ruangan yang sebagian terbuka. Berbagai aktivitas belajar mengajar yg berkaitan dengan metode kecerdasan majemuk dapat dilakukan, salah satunya dengan membuat display kelas yang dilakukan peserta didik dengan menggunakan material dari bahan bekas. Perpustakaan sekolah merupakan salah satu fasilitas yang mampu merangsang dan meningkatkan kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan linguistik, melalui aneka kegiatan belajar mengajar yg menyenangkan, salah satunya melalui story telling atau membacakan sebuah buku, anak dilatih untuk menjadi pendengar yang baik, dan mampu menirukan atau menjelaskan apa di dengar anak. Ruang ICT & Audio Visual merupakan salah satu fasilitas yang mampu merangsang dan meningkatkan kemampuan yang berkaitan dengan kecerdasan logika dan kecerdasan Visual. Anak-anak dapat menyaksikan berbagai macam film dan permainan multimedia, yang dapat merangsang kreatifitas dan menambah ilmu PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 247 pengetahuan dengan cara yang menyenangkan, seperti pengenalan science melalui film animasi atau belajar mengenal fungsi komputer melalui Games. Green lab adalah sebuah kebun atau laboratorium alam, dimana para siswa belajar dan mengekplorasi serta berinteraksi dengan alam secara langsung, melalui aneka kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan seperti belajar bercocok tanam, membuat kompos dan lain-lain. Aneka kegitan di Greenlab dapat menstimulus Anak-anak terutama pada usia 4 hingga 6 tahun, untuk meningkatkan kemampuan mengenali dan mengelompokan serta menggambarkan berbagai keistimewaan yang ada pada lingkungannya. A to Z garden adalah sebuah fasilitas berbentuk kebun dengan koleksi aneka tumbuhan yang mewakili huruf alfabet mulai dari A sampai Z seperti huruf A diwakili oleh tumbuhan Apel dan J diwakili oleh tumbuhan Jeruk dan seterusnya. Recycle garden dan Workshop adalah sebuah fasilitas workshop untuk mengolah atau mendaur ulang barang bekas menjadi aneka kerajinan, di Recycle Garden ini anak melakukan aneka aktivitas membuat kerajinan dari barang bekas dan melatih kecerdasan Visual. Amphiteater adalah Fasilitas tempat anak belajar aneka seni pertunjukan, mulai bernyanyi, bermain drama, membaca puisi, dan menjadi fasilitas untuk menunjukan kebolehannya di depan umum. Kegiatan pentas seni ini dapat memberikan nilai positif terhadap perkembangan anak usia dini, selain dapat memberikan perasaan senang, gembira dan menenangkan juga dapat dijadikan salah satu media alternatif untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang dapat membangun kepribadian anak yang lebih baik di masa yang akan datang. Outbound dan Playground adalah fasilitas untuk melatih mental dan fisik sekaligus sebagai sarana bermain. Kegiatan outbound sangat penting diterapkan kepada anak usia dini, selain mengurangi kejenuhan pada pembelajaran sehari-hari yang berada di dalam kelas, kegiatan ini juga bisa menjadikan tubuh menjadi sehat, karena kegiatan ini menuntut pesertanya untuk aktif bergerak dan dalam suasana ceria, gembira, dan menyenangkan, sehingga efeknya kepada fisik dan mental akan lebih terasa, yaitu efekpositif. Hubungan antara kecerdasan dan proses belajar mengajar harus menjadi hal yang elemen mendasar dalam menghasilkan cara untuk mengoptimalkan potensi akademik anak yang lebih tinggi, kesuksesan pelajar dan pembelajaran sepanjang hayat Özdemir, Güneysu & Tekkaya, 2006. Hasil temuan Yalda Delgoshaei, Neda Delavari 2012 yang menerapkan pendekatan Multiple Intelligence di ruang kelas sebagai metode pendidikan menghasilkan peningkatan di kelima ranah pengembangan kognitif anak prasekolah dengan Signifikansi 99%. Ada banyak keuntungan menggunakan Multiple Intelligences dalam proses mentoring pembelajaran proses mentoring menjadi lebih personal, guru awal menjadi lebih sadar akan kompetensi intelektual mereka; mereka juga menjadi pengamat murid mereka yang lebih baik dan dengan demikian mampu mempersonalisasikan proses belajar mengajar. Roxana, Sorina Constantinescu, 2013. E. SIMPULAN DAN REKOMENDASI Ada banyak cara menghasilkan suasana lingkungan belajar yang kondusif untuk mengoptimalkan kecerdasan jamak anak menjadi konsep dasar dalam proses pendidikan anak usia dini. Sepanjang melakukan hal tersebut, suatu filsafah yang menjadi tumpuannya adalah bahwa setiap anak atau murid adalah mereka yang dilayani dan diberikan suasana yang memungkinkan mereka bertumbuh dan berkembang. Anak tidak dicetak atau dipaksa menjadi sesuatu yang tidak cocok dengan kemampuan khas dan minat anak. Dengan kata lain, pendidik berfungsi PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 248 sebagai bidan yang membantu proses kelahiran seorang bayi. Dengan sabar pendidik menolong proses tadi berjalan, serta dengan bijaksana dan waspada. Kebanggannya ialah apabila hasil dari proses tadi bertumbuh dan berkembang dengan baik dan optimal. Adapun secara khusus kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah 1. Rumusan dan rancangan serta definisi suatu desain penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor playgroud terpadu yang dapat meningkatkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini adalah sebuah setting lingkungan belajar yang sengaja diciptakan untuk mendukung peningkatan potensi kecerdasan jamak anak usia dini. 2. Panduan desain setting penataan lingkungan belajar indoor dan outdoor playgound terpadu yang dapat meningkatkan potensi kecerdasan jamak anak usia dini adalah sebuah rencana yang sengaja dirumuskan untuk memandu proses pelaksanaan pembelajaran agar menunjang peningkatan kecerdasan jamak anak yang didukung dengan perangkat pembelajaran berupa Lesson Plan Activity Aktifitas Rencana Pembelajaran yaitu Rencana Program Pembelajaran Harian RPPH, Rencana Program Pembelajaran Mingguan RPPM dan Rencana Program Pembelajaran Tahunan RPPT yang satupadukan dalam sebuah proses pembelajaran di pendidikan anak usia dini. DAFTAR PUSTAKA Afoma R. Okudo Christy Omotuyole. 2014. Enhanced Learning Environment And Its Implications On The Pre-School Children’s Language Performance. European Scientific Journal March 2014 edition ISSN 1857 – 7881Printe-ISSN1857-7431. Beckley, Pat. 2012. Learning in Early Childhood. Sage Publication Ltd. Brendon P Hyndman, Amanda Benson, Shahid Ullah and Amanda Telford. 2014. Evaluating the effects of the Lunchtime Enjoyment Activity and Play LEAP school playground intervention on children’s quality of life, enjoyment and participation in physical activity. Hyndman et al. BMC Public Health 2014, 14164 -2458/14/164. Burcu Özdemir Beceren, 2010. Determining multiple intelligences pre-school children 4-6 age in learning process. Elsevier. Procedia Social and Behavioral Sciences 2 2010 2473–2480. Available online Gardner, Howard. 2004. Frames of Mind The Theory of Multiple Intelligences. Basic Book NewYork Hoerr, Thomas. 2004. Becoming Multiple Intellegences Schools. Virgnia ASCD. Hoerr, Thomas. 2007. Buku Kerja Multiple Intellegences. Jakarta Kaifa. Hoerr, Thomas. 2010. Celebrating Every Learner, Activities and Strategies for Creating Multiple Intellegences Classrom. San Francisco CA Jakarta Jossy-Bass. Mariyana, Rita, dkk. 2009. Pengelolaan Lingkungan Belajar. Jakarta Prenada Media Group. Suyadi. 2014. Teori Pembelajaran Anak Usia Dini Dalam Kajian PEDAGOGIA Jurnal Ilmu Pendidikan 249 Neurosains. Bandung Remaja Rosda karya Suyadi, Dahlia. 2014. Implementasi dan Inovasi Kurikulum PAUD 2013 Program Pembelajaran Berbasis Multiple Intellegences. Bandung RemajaRosdakarya.. ... Untuk itu, maka keberhasilan peserta didik ke depan, tidak terlepas dari pembelajaran yang pernah di lalui pada berbagai jenjang pendidikan, yang saat ini menuntut pendidik dalam melakukan evaluasi secara mendalam untuk mempersiapkan peserta didik dalam menghadapi tantangan abad ke 21 atau saat ini yang disebut sebagai revolusi industri Imanuddin, 2020. Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya yang terus digalakan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran yang salah satunya yaitu dengan mengoptimalkan iklim pembelajaran secara kondusif yang pada gilirannya dapat memberikan ruang bagi peserta didik dalam mengoptimalkan pertumbuhan dan pengembangan potensi yang dimilikinya Mariyana & Setiasih, 2018. Sebagai langkah lanjut dalam penciptaan iklim pembelajarannya ini, maka acuan dalam kegiatan pembelajaran perlu ditekankan pada harmonisasi dan kerja sama antara guru dan siswa sebagai komponen yang tidak terpisahkan dalam suatu lingkungan belajar sehingga terjalin interaksi yang kondusif dalam kaitannya dengan pemanfaatan sumber belajar Norhikmah et al., 2022. ... Mohammad Amin LasaibaPenelitian ini menganalisis penerapan model pembelajaran Cooperative Script Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Geografi dengan menggunakan metode eksperimen semu dengan penekatan pada penelitian kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 6 Leihitu dengan Teknik pengambilan sampal adalah purposive random sampling. Pengumpulan data yang digunakan adalah teknik tes dan di analisis secara statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil penelitian mennjukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang belajar dengan model pembelajaran cooperative script dibandingkan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dengan nillai F sebesar 3,594 memiliki signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 F = 3,594; p < 0,05.2. Untuk aktivitas belajar, juga terdapat perbedaan antara siswa yang belajar dengan model pembelajaran cooperative script dengan siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional dengan nilai F sebesar 6,737 yang memiliki signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 F = 6,737; p < Analisis signifikansi perbedaaan skor rata-rata aktvitas belajar dan hasil belajar dengan metode Least Significant Difference LSD berbeda secara signifikan pada taraf signifikansi 0,05... Lingkungan memberikan banyak peluang kepada anak untuk menggali dan menemukan pengetahuan tanpa batas. Lingkungan sekitar anak memberikan pengaruh dalam pembentukan ide-ide maupun perubahan prilaku anak yang mengarah pada pendidikan modern baik secara langsung maupun secara tidak langsung Mariyana & Setiasih, 2018. Peluang-peluang yang ada bisa distimulasi melalui kegiatan bermain. ...Henny HennySt. AsmawatiKeterbatasan waktu dan desain kegiatan yang kurang terstruktur menjadi problematika penerapan pembelajaran sains dengan pendekatan saintifik di TK Kartika Wirabuana 51 Kota Baubau. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan pembelajaran sains berbasis bahan sekitar melalui pendekatan saintifk untuk menstimualasi kemampuan saintifik anak di TK Kartika Wirabuana 51 Kota Baubau. Desain penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan partisipatori. Data-data dikumpulkan melalui observasi wawancara dan dokumentasi kemudian dianalisis secara deskripstif yakni direduksi, display dan verifikasi untuk menemukan hasil sesuai yang diharapkan. Adapun proses penerapan pembelajaran sains dengan pendekatan saintifik dimulai dari pemberian inspirasi awal terkait perkenalan alat dan bahan, desain kegiatan yang telah dirancang dilanjutkan dengan proses eksplorasi untuk menstimulasi kemampuan saintifik anak.... Dalam proses pertumbuhannya cara yang paling banyak dipakai oleh anak untuk belajar adalah dengan meniru Mariyana and Setiasih, 2018 baik meniru segala perkataan yang dia dengar, maupun meniru gerakan atau cara melakukan sesuatu Suteja, 2017. Sebab itu mereka membutuhkan teladan yang bisa mereka lihat secara dekat untuk belajar bagaimana bertindak atau merespon sesuatu Putera, Wahyuni, and Ariani, 2019. ... Kosma ManurungPenelitian ini bermaksud mengkaji strategi orang tua dalam menumbuh kembangkan disiplin anak di keluarga Kristen. Alkitab meletakan tanggung jawab utama untuk mendidik anak ada pada orang tua. Anak-anak memerlukan disiplin untuk membentuk karakter mereka. Selain itu disiplin juga penting bagi anak dalam kaitan dengan kehidupan sosial dan disiplin merupakan fondasi yang sangat dibutuhkan anak untuk meraih masa depan mereka. Metode yang digunakan adalah deksriptif dan kajian literatur. Berdasarkan hasil pembahasan artikel ini tersimpulkan bahwa para orang tua berperan dalam membangun disiplin anak mereka yaitu melalui membangun komunikasi dengan menggunakan bahasa cinta dari anak mereka, dengan menjadikan dirinya teladan yang bisa dicontoh oleh anaknya, memberikan ruang untuk anak bertumbuh serta mengeksplore dirinya, dan melalui tindakan tegas dalam has not been able to resolve any references for this publication.
*Primary authors are Ali Thiel and Oby Ekwueme Kickball. Soccer. Mudpies. Climbing trees. Is there anything more fun in the world than playing? Pure, childlike freedom where anything is possible and anything goes. Nowadays, much of play is indoors. Computer games. TV. PS3 or whatever version they’re on now. Something seems to be missing Joy? Shared connection? The carefree laughter has been replaced by the quick jabs of a controller. Recent studies tell us why indoor play is detrimental to children’s growth. Outdoors, a child learns on multiple levels with each new adventure Burdette and Whitaker, 2005. With all of the imaginary castles, lands, and creatures, the brain develops at a much faster rate than for those who play indoors. There are numerous effects. Not only do they become better learners, and do well in school, but they are more fun to be around they make more friends—everyone wants to play with the kid with the active imagination! Consequently, children will be much happier because, hey, they’re smart and they have a lot of friends. All of this comes from just playing outside; you can bake many loaves in the same oven. Not only are there mental advantages to playing outside, there are even more physical advantages. Obviously, if a child is playing outside he/she will be way more active than the child that stays indoors. The great thing about this is that it can have long-lasting effects Cleland, et al., 2008. Years down the road, the child will still be more active and less likely to be overweight. If you think about this, it makes perfect sense; teach a child when they’re young to love the outdoors and they will love it forever. Now here’s what the experts say about the disadvantages of indoor play. The worst news first. Researchers have found a disorder called “Nature Deficit Disorder." Basically, this means that not playing outdoors and with nature hiking or camping is really detrimental for kids. Researchers have even gone so far as to study whether how close parents are to nature affects their children. They found that children who lived closer to nature and had more opportunities to be in the natural world were less stressed out with life Wells and Evans, 2003. They also found that children who had a more natural day-care setting camps had better motor coordination and could better concentrate/pay attention Wells, 2000, back to what we were talking about up top. This makes sense, though, because nature can provide an outlet to get away from life’s stressors like our fast-paced, technological world. Nature slows us down, lowering blood pressure, as we appreciate its natural beauty Wells, 2000. So basically, when kids don’t play outside in the natural world, they miss the great benefits that nature provides. Now right about here some people may argue for indoor play. Don’t games such as Wii Fit, Just Dance, and Dance-Dance Revolution offer physical benefits? Well, yes. It has been found that children who play these games get about the same levels of physical exertion as children who walk for an hour Graft, Pratt, Hester, and Short, 2009. But, there are so many disadvantages to playing these games. They are missing connecting to nature, the freedom to invent games themselves and interact freely with others. Wii games are more like adult-directed sports activities. They just are not as good as letting children direct their own play. Moreover, violent video games have been shown to “produce” more violent children than children who play neutral video games Willoughby, Adachi, and Good, 2012 or than those who play outside. Researchers have discovered why children like video games. Do you know what they found? Children play video games for many reasons, including that video games are a fun challenge, stress relievers, offer companionship with other players and/or friends Colwell, 2007. Doesn’t this sound like a poor substitute for playing outside? You can reap the more rewards and it’s free. Now, some people may be wondering why parents let their kids stay indoors if playing outside is so much better. Some parents are worried about picking up germs outside. Oddly enough, research shows that the air indoors is actually more likely to promote asthma than being outside Epstein, 2001. For families who live in big cities, it does not seem like there is a choice because parents fear for their kids’ safety. This has become such an issue that the current generation is used to being watched constantly, unlike prior generations. Solutions in this case might be Parents can play outside with their kids. Even kicking or throwing a ball around is good-not only would this allow the children to get the fun of playing outside, but it would also help foster closer parent-to-child bonds. Allow your child to ride their bike to school. Not only is this physical activity, but through this, they can also develop safety awareness for themselves. Let your child walk to school with friends or with you. One study showed that some children prefer to walk places because of boring car rides and they were apart from their friends Mitchell, Kearns, and Collins, 2007. Talk to your neighbors about getting the kids out. One study showed that many parents reported restricting their children’s outdoor time because there were few people out and about in the neighborhood; however, by keeping children in, it dissuades other parents from allowing their children out as well Carver, Timperio, and Crawford, 2008. So it turns into a vicious cycle! Outdoor activities are fun and very helpful for children’s development. Indoor activities, though they may be fun, can be detrimental because they do not promote adequate physical and mental growth. One way to combat this is allowing children to do little things play catch, walk to school, ride their bikes around the neighborhood with their friends. So what are you waiting for? It’s National Outdoor Play Day the first Saturday in every month. Get up off of that chair and go outside and play! *Ali Thiel and Oby Ekwueme are students at the University of Notre Dame in Indiana. References Burdette, H., & Whitaker, R. 2005. Resurrecting Free Play in Young Children. Arch Pediatr Adolesc Med., 159, 46-50. doi Carver, A., Timperio A., & Crawford, D. 2008. Playing it safe The influence of neighbourhood safety on children’s physical activity—A review. Health & Place, 14, 217-227. doi Cleland, V., Crawford, D., Baur, Hume, C., Timperio, A., & Salmon, J. 2008 A prospective examination of children’s time spent outdoors, objectively measure physically activity and overweight. International Journal on Obesity, 3211, 1685-1693. Colwell, J. 2007. Needs met through computer game play among adolescents. Personality and Individual Differences, 43, 2072-2082. doi Epstein, B. 2001. Childhood asthma and indoor allergens The classroom may be a culprit. The Journal of School Nursing, 17 5, 253-257. Graf, D., Pratt, L., Hester, C., & Short, K. 2009. Playing Active Video Games Increases Energy Expenditure in Children. Pediatrics, 124, 534-541. doi Mitchell, H., Kearns, R., & Collins, D. 2007. Nuances of neighbourhood Children’s perceptions of the space between home and school in Auckland, New Zealand. Geoforum, 38, 614-627. doi Wells, N. 2000. At Home With Nature Effects of “Greenness” on Children’s Cognitive Functioning. Environment and Behavior, 32, 775-795. doi Wells, N., & Evans, G.2003. Nearby Nature A Buffer of Life Stress among Rural Children. Environment and Behavior, 35, 311-330. doi Willoughby, T., Adachi, P., & Good, M. 2011. A Longitudinal Study of the Association Between Violent Video Game Play and Aggression Among Adolescents. Developmental Psychology, 48, 1044-1057. doi
lingkungan bermain indoor dan outdoor